Agama
islam adalah agama yang indah, agama yang sempurna, syariatnya telah lengkap
dari segala sisinya, tidak tersisa suatu kebaikan pun kecuali telah datang
penjelasannya, dan tidak ada suatu kejelekan pun kecuali telah datang
peringatan atasnya. Agama islam adalah agama yang didalamnya Allah telah
menetapkan syariat dan hukum-hukum yang kesemuanya adalah inti, tidak ada kulit
dalam islam. Baik itu shalat, puasa, zakat, jihad, hukum rajam, tauhid (mengesakan
Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa shifat) dan lain sebagainya.
Syariat-syariat
itu memang harus dilaksanakan secara seksama jika memungkinkan, namun jika
tidak, maka tidak semestinya ditinggalkan semuanya. Seumpama shalat, tetap
wajib dilaksanakan dalam kondisi apapun, baik sehat maupun sakit bagi setiap
orang yang telah mukallaf, demikian juga zakat (baik zakat fitrah maupun zakat
harta), tetap wajib dikeluarkan zakatnya jika telah datang waktunya atau jika
telah sampai nishab. Demikian juga puasa ramadhan wajib bagi setiap mukallaf
untuk melaksanakannya kecuali ada udzur-udzur syar’i seperti sakit dan yang
semisalnya.
Demikian
juga tauhid, harus tetap ditegakkan pada setiap individu, baik yang muda maupun
yang tua dan wajib juga mendakwahkannya, mengamalkannya bahkan dalam setiap
desah nafas kita.
Demikian
juga jihad, harus tetap dilaksanakan jika memang kondisinya adalah kondisi yang
mengharuskan jihad seperti kaum muslimin diserang dan diperangi oleh kuffar. Dan
ilmu tentang jihad ini memang perlu dipahami secara syar’i bagaimana
hukum-hukumnya dan syarat-syaratnya, apakah jihad dilakukan sendiri-sendiri
atau bersama ulil amri? Dalam kondisi jihad, apakah perlu bendera jihad atau
tidak? Dan jihad itu apakah harus membunuh semua jenis orang kafir atau tidak?
Apakah harus berhadapan secara langsung dengan musuh yang memerangi kita atau
tidak? Dan masih banyak indikasi-indikasi jihad yang syar’i, dan itu semua
butuh kepada ilmu.
Demikian
juga hukum rajam, dia tetap harus dilaksanakan jika orang yang melakukan
perbuatan zina tersebut memang benar-benar berzina dan ada empat orang saksi,
atau ada indikasi lain yang memungkinkan diterapkannya hukum rajam seperti
pengakuan langsung dari pelaku zina, atau indikasi lain seperti terjadinya
kehamilan pada wanita terebut.[1]
Namun
permasalahannya, apakah syariat hukum rajam bisa diterapkan sekarang ini? Jawabanya
tentu saja tidak, kecuali jika telah terbentuk daulah islamiyah! Lalu apa yang
mesti kita lakukan jika tidak ada daulah islamiyah? Kewajiban kita adalah
bersabar dan bertaqwa semampu kita.
“Artinya, Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu
kalian”
(QS.At-Taghaabun : 16)
Untuk
itu, maka wajib bagi kita menjemput sebab-sebab yang syar’i agar tegaknya
daulah islamiyah. Dan di antara sebab-sebab itu adalah menuntut ilmu,
mengamalkan ilmu, berdakwah (amar ma’ruf nahi mungkar), dan bersabar.
Imam
Bukhari mengatakan :
“Ilmu itu sebelum berkata
dan berbuat.”[2]
Ucapan ini bukan tanpa alasan, imam bukhari
membawakan dalil firman Allah :
“Artinya, Maka
ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada
Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu…”
(QS. Muhammad : 19)
Kata
i’lam (ketahuilah) pada ayat diatas, adalah fi’il amr (kata kerja perintah
untuk satu orang laki-laki). Artinya, yang Allah ajak bicara adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
diperintahkan oleh Allah untuk mengilmui, dan yang harus beliau ilmui yang
pertama kali adalah LAA ILAAHA ILLALLAH. Ini menunjukkan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diperintahkan
oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk
mempelajari TAUHID. Dan tentunya, kita sebagai umatnya lebih wajib lagi untuk mempelajari
tauhid ini, karena mempelajari tauhid pasti menjelaskan tentang bahaya KESYIRIKAN,
karena syirik adalah lawan dari tauhid dan merupakan dosa yang paling besar.
Tapi sungguh sangat mengherankan dan
sangat ajaib bila ada orang yang ingin menegakkan daulah islamiyah tapi anti
dengan dakwah tauhid, padahal Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam sendiri orang yang paling pertama diperintahkan oleh
Allah untuk mempelajari ilmu Tauhid tersebut, lalu bagaimana kita bisa
mengesampingkan tauhid yang teramat penting ini? Jihad itu akan benar jika kita
telah belajar tauhid, karena banyak orang yang berjihad tapi dalam jihadnya ia
berbuat syirik yang nyata seperti menggunakan ilmu kebal supaya tidak tembus peluru
dll.
Bukankah
Rasulullah terluka saat perang uhud? Lalu mana ilmu kebal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal
beliau-lah orang yang seharusnya lebih butuh kepada ilmu kebal itu dibandingkan
kita, karena beliau berperang setiap waktu, sedangkan kita hanya diam-diam saja
dirumah. Ini realita, belum lagi masyarakat kita yang penuh dengan ritual
kesyirikan setiap waktu dan setiap saat, baik dalam keadan sempit maupun
lapang. Lalu mana mungkin akan tegak syariat islam, mana mungkin akan tegak
daulah islamiyah jika rakyat kita masih bergelimang dalam kubangan kesyirikan?
Ini sangat ironis.
Mungkin
ada yang akan berkata, “Ah.. itu gampang! Jika nanti kami menang dalam
pemilihan dan kami memegang tampuk kekuasaan, itu bisa dirubah dengan membuat
aturan-aturan yang melarang mereka berbuat syirik! Kan sudah tegak daulah
islamiyah, tentu akan mudah mengendalikan mereka!”
Atau
mungkin ada sebagian lagi yang berkata, “Yang penting daulah islamiyah tegak
dulu, urusan syirik menyirik itu gampang..! Kalau sudah ada daulah, tentu
mereka akan terikat oleh hukum yang berlaku.”
Na’am,
jika seperti itu alasanya, maka ketahuilah. Sebelum kita sungguh telah ada
seorang pemimpin yang adil yaitu raja Najasy. Dia bahkan orang yang lebih baik
dari kita, karena dia beriman kepada Nabi saat Nabi masih hidup dan dia menjadi
seorang muslim sejati ditengah-tengah kaumnya. Dia adalah raja diraja, dia juga
memiliki kekuasaan, dan dia juga memiliki daulah. Namun apakah dia sanggup
merubah rakyatnya?
Sejarah
membuktikan bahwa Najasy tidak bisa merubah rakyatnya padahal dia adalah raja,
dia memiliki daulah.[3] Dan ketika ia meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabat yang men-shalat-kannya dengan shalat gaib. Ini menunjukkan bahwa, tidak
seorangpun yang menshalatkan jenazah raja Najasy di negerinya, karena rakyatnya
tidak ada yang beriman kepada Allah.
Maka merubah rakyat itu tidak
semudah yang dibayangkan. Jika ingin merubah mereka, maka dakwahkan kepada
mereka dakwah tauhid, karena dakwah tauhid adalah dakwah yang harus di
utamakan, karena ini adalah awal dakwah para Nabi seluruhnya.
Allah
berfirman :
“Artinya, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (seorang)
Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) :
“Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Thaghut itu.” (QS. AN-Nahl
:36)
Dari
ayat diatas bahwa bagi tiap-tiap umat, Allah utus seorang Rasul, yang dakwah
mereka adalah, “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” Ini adalah makna kalimat syahadat.
Allah
juga berfirman :
“Artinya, Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun
sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasannya tidak ada tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian Aku.” (QS. Al-Anbiyaa’ : 25)
Dapat
diambil faedah dari ayat diatas bahwa, semua Rasul sebelum Nabi Muhammad
dakwahnya adalah diatas Tauhid. Karena kalimat (Rasuulun, lihat teks arab ayat
diatas pada al-qur’an) adalah nakirah (tidak tertentu), sebelumnya didahului
oleh Huruf (Maa, lihat juga teks arab ayat diatas pada al-qur’an) yang bermakna
Nafiy, maka dalam kaidah ushul fikih
bahwa kalimat nakirah (tidak tertentu) dalam konteks negatif atau dalam konteks
Nafiy, akan memberikan makna yang
umum yang berarti, mencakup semua Rasul
yang pernah ada.[4]
Dan
demikianlah para Nabi, mereka memulai dakwahnya dengan seutama-utama dakwah
yaitu tauhid. Dan tidak pernah ditemukan para Nabi memulai dakwah mereka dengan
jihad, tidak pernah pula memulai dakwahnya dengan khilafah, tidak pernah pula
memulainya dengan politik dan partai, baik yang bernuansa islami maupun tidak,
karena dakwah yang tidak dimulai dengan dasar ilmu dan tauhid, maka dakwah itu
laksana fatamorgana ditengah gurun pasir yang gersang yang dilihat oleh musafir
yang hampir mati kehausan.
Kita
tidak menafikan jihad karena memang jihad adalah penting, kita juga tidak
menafikan daulah islamiyah dan pentingnya kekhalifahan, karena itu juga
merupakan impian setiap muslim. Namun yang paling penting dari yang penting
diatas, yaitu kita haarus mendakwahkan tauhid, karena tauhid adalah tujuan
utama dakwah. Tauhid-lah yang dapat mempersatukan umat, tauhid-lah yang dapat
memperbaiki masyarakat.
Kita
harus merubah masyarakat dari dasar bukan dari atas yaitu setelah terbentuknya
khilafah. Apapun bentuknya, dengan nama apapun atau atas dasar kaidah manapun seperti
kaidah “Kebenaran yang tidak terorganisir, akan kalah oleh kejahatan yang
terorganisir.” Sehingga dari kaidah ini maka muncul-lah ide, “Ayo kita bangun “kebenaran”
yang terorganisir supaya dapat mengalahkan kejahatan yang terorganisir, atau
dalam istilah bekennya adalah mari kita bangun partai islami” Allahul musta’an.
Tetap
jika ingin memulai dakwah, harus dengan tauhid. Pernyataan ini adalah
pernyataan Allah sendiri seperti yang telah dijelaskan dengan gamblang diatas.
Saudaraku
muslim yang mulia. Mungkin perlu dipertanyakan mengapa begitu gigihnya Rasulullah
memulai dakwah tauhid ketika di mekkah selama 13 tahun dan berlanjut lagi ketika
di madinah selama 10 tahun. Ada apa gerangan sehingga Beliau terus menerus
menyerukan dakwah tauhid ini, bahkan sampai beliau mendapatkan cercaan dan
makian, tuduhan gila, tuduhan sebagai penyihir, bahkan sampai terjadi kontak
fisik dan pemukulan terhadap Nabi oleh kaumnya.
Jawabanya
ada pada surat al-Muddatstsir. Disebutkan oleh syaikh at-Tamimi dengan
terjemahan bebasnya bahwa, “Beliau diutus oleh Allah untuk memperingatkan dari
syirik dan menyeru kepada tauhid.”[5] Dalilnya adalah firman Allah :
“Artinya, Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah,
lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah.
Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.
(Al-Mudatstsir : 1-7)
Makna
Qum
fa Andzir (Bangunlah, lalu berilah peringatan) yaitu : memperingatkan dari
kesyirikan dan menyeru kepada
tauhid. [5]
Makna
wa Rabbaka Fakabbir (Tuhanmu agungkanlah) yaitu :
agungkan dengan tauhid.[5]
Makna
wa Tsiyaabaka Fathahhir (Dan pakaianmu bersihkanlah) yaitu :
Sucikanlah amal perbuatanmu dari kesyirikan.[5]
Makna
war Rujza fahjur (Dan perbuatan dosa (menyembah
berhala) tinggalkanlah) yaitu : war
Rujza = berhala-berhala dan fahjur
= meninggalkan berhala-berhala dan
ahlinya (yaitu para penyembah berhala) dan berlepas diri dari berhala-berhala
tersebut beserta ahlinya.[5]
Cukup
dalil-dalil diatas sebagai hujjah bahwa dakwah itu harus dimulai dari tauhid,
dari awal hingga akhir.
Sebagai
penguat, perhatikan bagaimana kesamaan dakwah para Nabi yang Allah ‘Azza wa Jalla ceritakan dalam al-Qur’an
tentang misi tauhid yang mereka emban. Allah berfirman tentang Nabi Nuh dan
bagaimana dakwah beliau :
“Artinya, Sesungguhnya
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata : “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu
selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu
akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS. Al-A’raf :
59)
Allah
juga berfirman tentang Nabi Hud :
“Artinya, Dan
(Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud.
Ia berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa
kepada-Nya?” (QS. Al-A’raf : 65)
Allah
juga berfirman tentang kisah Nabi Shaleh :
“Artinya, Dan
(Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh.
Ia berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada tuhan bagimu selain-Nya…” (QS. Al-A’raf : 73)
Allah
juga berfirman tentang kisah Nabi Luth :
“Artinya, Dan
(Kami telah mengutus) kepada penduduk mad-yan saudara mereka Syu’aib. Ia
berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya…” (QS. Al-A’raf :
85)
Perhatikanlah
wahai saudaraku, semua Nabi dakwahnya dakwah Tauhid, dan yang pertama kali
diserukan oleh mereka adalah “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Dan ini tidak lain adalah tauhid,
mengajak untuk menjauhi syirik, setelah itu baru memperingatkan kaumnya dari
kemaksiatan-kasiatan lainnya. Ini dalil yang jelas.
Dari
itu, mari kita meraih daulah islamiyah dengan ilmu, yaitu kita perbaiki
individu-individu masing-masing dengan mendakwahkan ilmu, dan ajak mereka untuk
mau menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, menndakwahkan tauhid dan menjauhi syirik baru
kemudian dengan sendirinya akan terbentuk daulah islamiyah sebagaimana yang
terjadi pada masa Rasulullah dan para khalifah-khalifah Rasulullah yang lurus
setelah Beliau. Sebagai penutup, sangat indah ucapan ini :
“Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu,
niscaya
akan tegak Islam di negaramu.”[6]
Wallahu
a’lam.
©2014
[1]
Faedah kajian kitab al-Ushul min Ilmil
Ushul bersama Ustadz Abu Mushlih.
[2]
Majmu’u Mutuunil Aqiidati wat-Tauhiidi,
Bab al-Ushuulu as-Tsalaatsatu, hal :
3
[3]
Faedah kajian kitab Sittu Durar
bersama Ustadz Abu Mushlih.
[4]
Faedah kajian kitab Minhaajul Firqatin
Naajiyah dan kitab al-Ushul min
‘Ilmil Ushul bersama Ust.Abu Mushlih.
[5]
Majmu’u Mutuunil Aqiidati wat-Tauhiidi,
Bab al-Ushuulu as-Tsalaatsatu, hal
:11
[6]
Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,
hal : 575. Penerbit : Pustaka Imam
Syafi’i.
©2004
©2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.