Laman

Minggu, 30 April 2017

NAHWU



Dahulu orang-orang arab di jaman kejahiliyahan mereka, mereka tinggal disemenanjung jazirah arab dan tidak bercampur dengan orang-orang asing. Dan hal itu membuat mereka semakin fasih dan jauh dari kesalahan dalam berbahasa.
Lalu muncul islam, dan orang-orang arab pun mulai  meninggalkan kejahiliyahan mereka dan  beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Hingga wafat-lah Rasulullah dan kekhalifahan di pegang oleh Abu Bakar, lalu Umar. Dan pada zaman Umar, perluasan islam semakin membentang sampai pada penaklukan kerajaan persia dan romawi, menyebabkan orang-orang arab berinteraksi dengan orang-orang asing, budak-budak pun banyak berdatangan dan mendiami jazirah arab lalu kefasihan bahasa arab mulai terkikis. Dan diantara kesalahan-kesalahan-kesalahan tersebut adalah :

A. Kesalahan yang terjadi pada masa Umar bin Khaththab
Ada tiga kesalahan pada zaman umar dan dari sini awal dimulainya ada perhatian untuk membenahi kesalahan dalam ilmu nahwu.
Kesalahan pertama
Sekertaris Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada umar atas nama Abu Musa al-Asy-ari, demikian secara lengkapnya.
“Sebagaimana telah diceritakan bahwasannya sekretaris Abu Musa al-Asy’ari telah menulis sabuah surat kepada Umar bin Khaththab dan dia berkata didalam tulisannya, ((‘Min Abu Musa al-Asy’ariy...)). Tatkala Umar radhiyallahu ‘anhu membacanya Umar mengirim surat kepada Abu Musa ((Pukul-lah sekretarismu dengan cambukan))”.[tahdziib syarh ibni aqil li alfiyah ibni maalik cetakan ketiga jilid 1 hal.10].
Kalimat diatas seharusnya : “Min Abi Musa al-Asy’ari....”(Artinya : dari Abi Musa al-Asy’ari). Ternyata boleh dihukum cambuk orang yang keliru dalam berbahasaarab.

Kesalahan Kedua
Pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu pula terjadi kesalahan yang lain. Ketika Umar melewati suatu kaum, yang tentunya mereka dari tentara-tentara kaum muslimin. Ketika itu kaum tersebut sedang berlatih memanah, namun bidikan mereka selalu meleset. Seolah-olah Umar meremehkan mereka. Secara lengkapnya sebagaimana diceritakan :
“Umar suatu hari melewati suatu kaum yang sedang belajar memanah akan tetapi tidak dikagumi oleh Umar lemparan panah mereka. Mereka mengabarkan kepada Umar dengan berkata: ((‘Innaa qaumun muta’allimiin’)). Hal itu mengagetkan Umar dan berkata: ((‘Demi Allah betul-betul kesalahan kalian pada lisan kalian lebih berat bagiku daripada kesalahan kalian dalam memanah!!’)).[Tahdziib syarh ibni aqil li alfiyah ibni maalik cetakan ketiga jilid 1 hal.11].
Kalimat diatas seharusnya : ‘Innaa qaumun muta’allimuun..’(Artinya : sesungguhnya kami kaum yang masih belajar).
Kesalahan ketiga
Kisah kesalahan ketiga ini yang paling parah, yaitu kisah datangnya seorang badui kepada Umar mengadukan tentang bacaan surat at-taubah ayat 3 yang dia pelajari dari seorang guru atau ustadz.
Disebutkan dalam sebuah kitab yang isinya kira-kira seperti ini :
“Datang kepada Umar ibnil Khaththab seorang laki-laki yang sedang membaca; ((‘Innallaaha bariiun minal musyrikiina wa rasuulihi..’)), dengan men-jar kan (mengkasrohkan harokat huruf lam pada kata rasuulihi), maka dia bertanya kepada Umar dan berkata : ‘Apakah demikian engkau membacanya di kota madinah?’ Maka Umar berkata : ‘Bukan seperti itu, hanya saja dia (dibaca)warasuuluhu, dengan mendhommah-kan laam, karena Allah tidak akan berlepas diri kepada rasul-Nya. Kemudian Umar memerintahkan agar tidak mengajarkan ilmu (al-qur-an) kecuali orang yang berilmu tentang bahasa arab. [I’raabul qur-anil kariim wa bayaanuhu, ta’liif Muhiiyuddiin ad-Darwiis, Daar ibni katsiir cetakan ketiga, jilid 4 halaman : 54]
“Dan Umar memanggil Abul Aswad ad-Duali dan memerintahkannya untuk meletakkan (dasar-dasar) ilmu nahwu. Yang dikehendaki dari riwayat ini bahwa ilmu ini (nahwu) tidak terkenal sebelum Abul Aswad, dan sungguh manusia sebelumnya mengucapkan bahwa dahulu tidak ada fitrah ini (kebiasaan mempelajari ilmu nahwu) dan ilmu nahwu ini akhirnya dimaklumi.[I’raabul qur-anil kariim wa bayaanuhu, ta’liif Muhiiyuddiin ad-Darwiis, Daar ibni katsiir cetakan ketiga, jilid 4 halaman : 54].
Yang pertama mempopulerkan ilmu nahwu adalah Abul Aswad ad-Duali sebagaimana yang disebutkan yang bila diterjemahkan secara bebas:
“Sungguh menjadi masyhur bahwa Abul Aswad ad-Duali dia adalah orang yang pertama meletakkan ilmu nahwu, mereka berkata : ‘Bahwasannya pada suatu hari dia mendengar anak perempuannya salah perkataannya dan dia pergi kepada Ali bin Abi Thalib, maka dia berkata kepada Ali : ‘Tersebar kesalahan pada anak-anak kami dan saya takut akan hilang bahasa arab (yang fasih), berkata imam (Ali bin Abu Thalib) kepada Abul Aswad : ‘Tulislah dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang bahwa al-kalaam ada tiga : Isim, Fiil, Huruf, dan isim itu seperti ini dan fiil itu seperti ini dan huruf itu seperti ini. Isim-isim pun terbagi tiga : Dhahir, Dhomir, Mubham, dan faail marfu’ selamanya, mafulun bihi manshub selamanya, dan mudhof ilaihi majrur selamanya, maka fahamilah dan telitilah, dan apa yang muncul darimu berupa tambahan maka kumpulkanlah ia. [I’raabul qur-anil kariim wa bayaanuhu, ta’liif Muhiiyuddiin ad-Darwiis, Daar ibni katsiir cetakan ketiga, jilid 4 halaman : 54].
Wallahu a’lam. Bersambung insya Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.